Perbaikan Belum Dilakukan sejak Tambang Nikel Ditutup 2014

MABA, KOMPAS — Sebagian kawasan perbukitan dan pesisir Teluk Buli di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, rusak paralı akibat penambangan nikel sejak 1980-an. Setelah tambang ditutup pada awal 2014, perbaikan kawasan bekas tambang itu belum dilakukan. Warga meminta pemerintah segera mereboisasi kawasan itu.

Teluk Buli juga diperkirakan sudah tercemar sehingga mengganggu habitat biota laut. Salah satu bukti, nelayan setempat sulit mendapatkan ikan teri setelah aktivitas penambangan masif beroperasi. Padahal, Teluk Buli terkenal sebagai lokasi produksi ikan teri terbesar di Maluku Utara. Banyak kapal dari luar daerah bahkan luar negeri datang membeli ikan teri di teluk itu.

Demikian informasi yang dihimpun Kompas hingga Senin (8/2). Pantauan pada pekan lalu menunjukkan hamparan areal bekas tambang nikel terlihat dari udara melalui pesawat terbang udara melalui pesawat terbang saat hendak mendarat di Bandar Udara Buli. Sepanjang perjalanan sejauh 71 kilometer dari Buli menuju Maba, ibu kota Kabupaten Halmahera Timur, sejumlah areal bekas penambangan tampak di sepanjang kedua sisi jalan.

Sejumlah lokasi perbukitan tidak jauh dari pesisirpun digusur. Akibatnya, saat hujan, sedimen dari perbukitan terbawa erosi dan menutup sebagian badan jalan di beberapa lokasi. Sedimen itu akhirnya tertimbun di pesisir pantai, balikan terbawa ke tengah laut. Sejumlah lokasi pesisir juga digusur untuk menampung material dan menjadi areal aktivitas perusahaan.

Masih tampak alat berat pengeruk tanah, truk pengangkutan tanah, mes pekerja tambang dan pelabuhan khusus milik perusahaan tambang yang tidak terawat. Ironisnya, di areal tambang ada papan imbauan dari dinas kehutanan setempat yang mengajar warga untuk menjaga kelestarian hutan mangrove.

Ikan teri

Rasid Hakim (47), warga, menuturkan, hingga awal 2000, pesisir Teluk Buli masih dipenuhi bagan penangkap ikan teri. “Dulu satu hari kami bisa dapat hampir 1 ton ikan teri. Sekarang tidak adalagi sehingga banyak bagan tidak beroperasi dan akhirnya rusak,” katanya. Rasid mulai bekerja sebagai nelayan teri sejak 1980.

la menduga teluk sudah tercemar. Banyak material tanah mengandung nikel terbawa ke laut ketika hujan atau tumpah saat dimasukkan ke dalam kapal pengangkut. Material yang diambil dari lokasi penambangan tersebut kemudian dibawa dengan kapal ke tempat pengolahan di luar daerah itu.

“Mulai tahun 2000 tambang di sini ramai sekali. Banyak kapal pengangkut material tanah antre di teluk dan banyak material yang jatuh ke laut. Warna air laut pun berubah menjadi kemerah-merahan. Mulai saat itu tidak ada lagi ikan teri,” kata Rasid.

Akibatnya, hampir 500 juragan bagan penangkap ikan teri yang beroperasi di Teluk Buli bangkrut. Ribuan anak buah kapal dan buruh panggul ikan di darat juga kehilangan pekerjaan. Seperti Rasid, mereka kini bekerja serabutan. Ada juga yang beralih menjadi buruh tambang tetapi saat ini sudah kembali ke rumah setelah tambang ditutup pada 2014.

Fahruddin Maloko, aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Eksekutif Daerah Maluku Utara, menuturkan, pihaknya sudah mengingatkan pemerintah agar memperbaiki lingkungan Teluk Buli. Kendati belum ada penelitian ilmiah, hilangnya habitat ikan teri di Teluk Buli menandakan telah terjadi pencemaran.

Saat meneliti kehidupan sosial di daerah itu, lanjut Fahruddin, ia menemukan banyak nelayan jatuh miskin. Kebanyakan kawasan tambang nikel di bawah kendali PT Aneka Tambang (Antam). Penutupan tambang tahun 2014 dilakukan setelah ada Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2014 yang melarang pengiriman material tambang sebelum diolah Wakil Ketua DPRD Halmahera Timur Idrus Maneke juga mengakui dampak yang dirasakan nelayan. Pihaknya sudah mendesak pemerintah dan PT Antam agar mereboisasi kawasan yang kritis akibat penambangan. “Antam sudah membuat pembibitan tanaman untuk ditanam di kawasan itu. Namun, belum ada hasil yang signifikan,” katanya. (FRX)

 

Sumber: Kompas (Koran/Media Cetak)

Selasa, 9 Februari 2016

Halaman 24

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *