a+csr-postimage-buruh_harianterbitcom

Tenaga kerja, sering disingkat sebagai SDM (kepanjangan dari sumberdaya manusia). Ada juga yang menyebutnya dengan “kuli”, “karyawan”, “kelompok pekerja”, “buruh” dan seterusnya. Apa pun sebutannya, hal utama yang penting ditekankan adalah bahwa mereka adalah manusia yang memiliki hak-hak dasar: hak untuk hidup layak; hak mengembangkan karier; hak intelektual; hak berserikat dan berkelompok; hak untuk terbebas dari segala kekerasan kemungkinan ancaman merusak dan bahkan mematikan martabatnya sebagai manusia. Pada dasarnya jangan sampai karena ia memiliki label sebagai tenaga kerja, kuli, karyawan, buruh dan sebutan lainnya mereka menjadi teralienasi dari dirinya sendiri.

Bekerja bukan saja sebagai sebuah kewajiban. Akan tetapi adalah sebuah kehormatan. Dengan perantara bekerja itulah seorang manusia akan menunjukkan kehormatan dirinya. Hal ini tentu tidak akan terjadi jika situasi dan kondisi kerja malah mengasingkan seseorang dari kehormatan dan martabat luhur sebagai human being.

Dalam perspektif kehidupan berorganisasi, termasuk di dalamnya organisasi bisnis, kemampuan beradaptasi, lalu berintegrasi dengan tujuan lembaga dari kelompok pekerja adalah hal yang substansial bagi keberlanjutan organisasi itu. satu orang pekerja pada akhirnya merupakan representasi dari sebuah institusi. Tentu, yang diharapkan adalah sebuah cerita dan pengakuan mengenai kinerja baik, reputasi positif dan pada akhirnya akan berdampak pada keberlanjutan lembaga di mana para pekerja mempertaruhkan hidup dan makna kehidupannya.

Kecenderungan besar, bagi dari perspektif pemilik bisnis maupun dari para pekerja, adalah mengedapankan dan mengutamakan soal kesejahteraan ekonomi sebagai indikator kemajuan dan keberlanjutan. Dan ini sering diartikan sebagai proses kapitalisasi bentuk kesejahteraan dengan standar yang mendekati kemewahan dan jaminan keberlanjutan hidup mewah. Dan biasanya semakin menjadi urusan kebanggaan individual. Terus menjadi selfish dengan mengedepankan egoisme konsumerisme yang secara langsung atau tidak langsung; sengaja atau tidak sengaja; disadari atau tidak; sedikit banyak merusak tatanan keseimbangan dan menghambat cita-cita pemerataan kesejahteraan sosial.

Dalam hal ini wacana mengenai CSR sedikit banyak memberikan kontribusi pada keseimbangan pencapaian kinerja ekonomi, sosial dan lingkungan. Ketiga aspek ini diletakkan sebagai sama penting dan sama signifikannya bagi keberlanjutan bisnis. Posisi lembaga bisnis juga pada akhirnya harus menempatkan diri sebagai citizen yang penting bagi keseimbangan kehidupan ekonomi, sosial dan lingkungan. Ini semua diagendakan dengan sebuah strategi pengelolaan dampak, risiko, dan sebagai sebuah investasi penting bagi keberlanjutan lembaga bisnis.

Wacana mengenai employee voluntering, kesukarelaan para pekerja untuk juga berkontribusi pada keseimbangan sosial, ekonomi dan lingkungan sering dijadikan sebagai salah satu indikator penting dari praktik bisnis yang bertanggung jawab. Tidak hanya berkutat pada upaya penyejahteraan internal perusahaan, tapi juga kepada pada stakeholder lainnya selain pekerja. Manfaat besarnya juga tidak hanya untuk reputasi perusahaan, tetapi juga bagi kepuasan pekerja serta tentunya perolehan pengakuan dari komunitas. Tentu dari program yang diselenggarakan harus disesuaikan dengan strategi pengelolaan dampak, risiko, dan sebagai sebuah investasi penting bagi keberlanjutan lembaga bisnis.

Tentu ada pengakuan besar bahwa sebuah lembaga bisnis yang berkelanjutan harus didukung oleh sumberdaya manusia yang berkelanjutan pula. Sumber daya manusia yang secara individual merasa tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar hingga aktualisasi diri; tapi juga sumber daya yang dengan tegas menyatakan sebagai bagian dari kehidupan sosial secara lebih luas. Dan ini diselenggarakan dalam dimensi upaya menyelenggarakan bisnis secara bertanggung jawab; berkelanjutan; dan merupakan bagian integral dari kewargaan.

Mungkin atas alasan inilah apa yang dieksperimenkan oleh perusahaan dalam berbagai program voluntary employing akan menjadi insipirasi, menjadi penggerak, dan mendorong setiap stakeholder menjaga dan melestarikan keseimbangan: kesejahteraan ekonomi, pelestarian lingkungan dan harmoni sosial. Sama sekali bukan atas alasan cause related marketing yang biasanya berjangka pendek!

Foto: HarianTerbit.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *