a+csr-postimage-nestle_airbersih

Sebagai strategi untuk mempertahankan bisnis Nestlé jangka panjang, sejak didirikan sekitar 148 tahun lalu perusahaan multinasional asal Swiss ini mengaplikasikan konsep penciptaan manfaat bersama, yang kini dikenal dengan Creating Shared Value (CSV).

Dikisahkan oleh Head of Corporate Communication PT Nestle Indonesia, Nur Shilla Christianto, CSV pertama kali diimplementasikan sewaktu di Swiss melalui kerja sama dengan para petani dan masyarakat pedesaan, antara lain dengan pemberian bantuan teknis dan keuangan guna peningkatan produktivitas dan kualitas produk pertanian mereka yang merupakan bahan baku bagi pabrik-pabrik Nestlé. Penamaan Creating Shared Value sendiri pertama kali diperkenalkan dalam sebuah artikel di majalah Harvard Business Review yang berjudul “Strategy and Society: The Link between Competitive Advantage and Corporate Social Responsibility” oleh Michael E. Porter dan Mark R. Kramer.

“CSV bukanlah konsep baru bagi Nestlé, ini merupakan bagian dari strategi bisnis. Dari konsep inilah kemudian mereka gali lebih dalam”, jelasnya Shilla.

Shilla menjelaskan CSV bukanlah tentang filantropi, melainkan bagian dari strategi bisnis yang mencari optimasi keterlibatan pemangku kepentingan lain mata rantai usaha, sebagai upaya penciptaan value bagi para pemangku kepentingan tersebut dan bagi perusahaan. Dalam implementasi CSV, tujuan dari perusahaan bukan hanya pada penciptaan keuntungan bagi para pemegang saham, namun juga bagi pemangku kepentingan lain termasuk masyarakat luas. Dan dari sisi kepentingan perusahaan, kegiatan ini juga dapat terus memperkuat basis pemasok dan menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku yang berkualitas.

Misi Nestlé untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sehat, idenya kemudian diturunkan untuk merancang program atau proyek lingkungan dan komunitas. Hal ini dilakukan dengan secara aktif menjalin kemitraan serta membuka dialog dengan para pemangku kepentingan yang memiliki komitmen untuk terlibat dalam mewujudkan misi tersebut. Para pemangku kepentingan ini diantaranya pemerintah, organisasi non-pemerintah, pihak swasta, akademisi serta masyarakat setempat. Melalui kerja sama dengan pihak-pihak inilah tercetus beberapa kegiatan CSV yang telah dilaksanakan oleh Nestlé, dan salah satunya pemenuhan kebutuhan air masyarakat.

Nestlé Indonesia Berupaya Berikan Akses Air Bersih Bagi Masyarakat

Nestlé mempunyai beberapa proyek akses air bersih bagi komunitas di sekitar perusahaan yang membutuhkan, diantaranya bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dengan menyediakan akses air bersih dalam proyek penyediaan sarana air bersih bagi penduduk Desa Telagaluhur, Kabupaten Serang, Banten. Proyek yang dimulai sejak bulan Agustus 2008 ini telah menghasilkan sebuah sumur, tangki penampungan dengan kapasitas 30.000 liter air lengkap dengan pipa penyalurannya, 5 unit sarana MCK (Mandi, Cuci, Kakus) dan 8 unit hidran umum dengan kapasitas 2.000 liter.

Tidak hanya itu, Nestlé juga membina para sukarelawan dan beberapa anggota masyarakat agar mampu secara mandiri memanfaatkan sekaligus mengelola sarana air bersih yang telah dibangun. Pada tahun 2010, bekerja sama dengan Yayasan Yasmina, Nestle menjalankan program serupa di Desa Bitung Jaya, Kecamatan Cikupa, Tangerang, yang dekat dengan lokasi beroperasinya salah satu pabrik Nestlé. Korporasi juga melakukan penjajakan untuk implementasi program serupa di Jawa Timur dan Lampung agar semakin banyak masyarakat bisa memperoleh akses air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Serangkaian pelatihan bagi warga mengenai manajemen sumber daya air, kebersihan dan sanitasi lingkungan dilakukan untuk menciptakan agen-agen perubahan yang selanjutnya menjadi motor penggerak di desa Telagaluhur”, kata Head of Corporate Communication PT Nestle Indonesia, Nur Shilla Christianto.

Di sisi lain, untuk menjaga daerah tangkapan air PT Nestle Indonesia bekerja sama dengan World Wildlife Fund (WWF) dalam program NEWtrees untuk menanam 8.000 pohon di Lampung dan 8.000 lainnya di Jawa Timur yang akan dipantau selama 5 tahun. Di samping itu, PT Nestle Indonesia juga menanam pohon di berbagai lokasi pabrik yang hingga akhir tahun 2012 jumlahnya telah mencapai 5.545 pohon. Selain di lokasi-lokasi pabrik, pada tahun 2012 telah ditanam 5.000 pohon di Probolinggo, Jawa Timur sebagai dukungan terhadap program kota hijau Probolinggo. Di pertengahan tahun 2012, Nestlé telah ikut aktif dalam berbagai inisiatif yang diadakan IGCN (Indonesia Global Compact Network), termasuk dalam kampanye “Save Water”.

“Karyawan Nestlé juga secara aktif ikut berpartisipasi aktif membuat biopori (metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah – Red), baik di lingkungan kerja maupun di rumah masing-masing. Perusahaan memfasilitasi kegiatan ini dengan menyediakan alat pembuat lubang biopori yang dipinjamkan secara bergilir. Dengan ini, diharapkan tanah dapat menyerap air hujan dengan lebih baik guna penyimpanan air”.

Komitmen Nestlé demi menjaga keberlanjutan air diwujudkan antara lain dengan turut serta dalam program Indonesia Water Mandate Working Group (IWMWG) yang diprakarsai oleh Indonesia Global Compact Network (IGCN). Melalui kelompok kerja ini, Nestlé bersama dengan anggota IGCN lainnya secara aktif mengampanyekan pentingnya aksi kolektif dalam mengatasi permasalahan ketersediaan air bersih. Selama lebih dari 30 tahun, Nestlé telah memberikan bantuan teknis dan keuangan kepada para peternak sapi perah yang jumlahnya sekarang mencapai sekitar 35.000 di berbagai wilayah di Jawa Timur, guna meningkatkan produktivitas dan kualitas susu segar. Bantuan teknis juga meliputi pelatihan tentang keperluan minum ternak dan menjaga kebersihan kandang. Sejalan dengan W.A.T.E.R.

“Kami melaksanakan konservasi air melalui keterlibatan para peternak sapi perah, sebagai bagian dari mata rantai pasokan bahan baku. Selama tahun 2011-2012, kami bergabung dengan United Nations Global Compact Indonesian Network (IGCN), Partnership for Indonesia Sustainable Agriculture (PISAgro), Asosiasi Perusahaan Sayang Anak Indonesia (APSAI), serta terlibat aktif dalam Bidang Keberlanjutan – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) dan UNGC CEO Water Mandate Management”, tandas Shilla.

Proyek Pengadaan Air Bersih Nestle Di Tegalluhur

Implementasi CSV PT Nestle Indonesia di semua value chain perusahaan sebagai wujud nyata strategi bisnis yang melibatkan semua stakeholder terbukti bukan sekedar tebar citra semata. Diungkapkan Manajer CSV Nestle, Jenik Andreas, CSV difokuskan pada value chain di sekitar wilayah di mana bahan baku Nestle seperti kakao, susu dan kopi diperoleh. Namun CSV juga secara konsisten dijalankan di lokasi-lokasi yang memang memiliki prioritas tinggi bagi Nestle.

A+ CSR Indonesia berkesempatan mengunjungi proyek CSV untuk penyediaan sarana air bersih bagi penduduk Desa Telagaluhur, Kabupaten Serang, Banten pada 15 Maret 2014 lalu. Proyek yang dimulai sejak bulan Agustus 2008 ini berupa satu sumur, bangunan tangki penampungan dengan kapasitas 30.000 liter air lengkap dengan pipa penyalurannya, 5 unit sarana MCK (Mandi, Cuci, Kakus) dan 8 unit hidran umum dengan kapasitas 2.000 liter.

Ia menceritakan bagaimana awalnya Telagaluhur yang jaraknya sekitar 40km dari pabrik Nestle dipilih sebagai lokasi proyek CSV, ini bermula ketika ada beberapa permintaan dari wilayah-wilayah yang susah air. Hasil penilaian kebutuhan menunjukan Desa Telagaluhur lah yang memiliki kondisi paling kritis. Dalam pelaksanaannya Nestle bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia. PMI kemudian mengajak beberapa warga untuk membentuk kelompok kerja dan diberikan pendampingan teknis soal pembangunan sarana air dan capacity building untuk manajemen air dan keuangan.

“Jadi yang melakukan penilaian adalah PMI, mereka lah pelaksananya. Apalagi mereka kompeten sekali dalam water and sanitation. Alasannya kenapa di Serang, disitu memang susah air, kedua secara wilayah masih value chain kita akhirnya terjadilah kerjasama dengan PMI”, terang Jenik sembari mendampingi A+ CSR Indonesia meninjau sumur bor di desa Telagaluhur.

Sejak tahun 2008 digarap oleh Nestle hingga kini warga masih merasakan banyak manfaatnya. Untuk awal pendanaan satu sumur ini, Nestle menggelontorkan biaya sekitar Rp 500 juta.

“Pendanaan itu hanya waktu proyek pembangunan, begitu selesai peran manajamen pengelola air yang menggantikan. Dengan mengelola pembayaran untuk perawatan karena akhirnya ini dijual, siapa yang makai dia yang beli. Ini community base yang dilakukan bersama dengan komunitas, orang-orang itu yang dikasih pembekalan oleh PMI”.

Setelah pembekalan dari PMI, selanjutnya sumur tersebut diserahkan kepada komunitas warga Telagaluhur yang dinamai Kelompok Masyarakat Pengguna Air untuk mengelolanya. Pengelolaan ini meliputi penyeluran ke fasilitas MCK untuk umum juga dialirkan ke sekitar 100 rumah warga desa. Warga yang menikmati langsung air bersih ke rumahnya wajib membayar Rp20.000/bulan setiap rumah, dan 10.000/bulan untuk MCK, uang pembayaran inilah yang dipakai untuk membayar listrik operasional.

Penjelasan penuh antusias diungkapkan Jamu’in, salah satu warga desa Telagaluhur yang dipercaya sebagai bendahara Kelompok Mayarakat Pengguna Air. Ia berkisah betapa terbantunya masyarakat desa sejak adanya proyek air bersih oleh Nestle dan PMI, dengan 8 hidran umum dan 5 MCK masyarakat sangat terbantu tanpa perlu berjalan kaki hingga lebih dari 1 km untuk mengambil air dari sungai. Sekarang semua perihal air bersih telah diatur dan ada pengurusnya, dengan sistem air ditampung dari sumur bor lalu dialirkan ke rumah warga. MCK juga hidran umum dibuka sejak jam 6 pagi dan ditutup jam 8 pagi. Begitu pula untuk sore hari, pukul 4 sore aliran air dibuka hingga pukul 6 sore.

“Sebelum ada bantuan ini semua warga melakukan aktivitas nyuci dan mandi di sungai. Bahkan sebelum ada MCK mereka buang hajat ada yang di semak belukar atau hutan. Mau bikin emping ke sungai dulu, anak-anak kalau mau sekolah mandi kesana dulu dan pulangnya kesiangan, kalau sekarang kan sudah ada MCK jadi kalau mandi dekat dan cepat”, cerita Jamu’in kepada kami.

Hal serupa diutarakan Wati, warga desa yang merasa sangat beruntung dengan adanya program air bersih Nestle. Dulu ia menghabiskan banyak waktu sejak subuh hingga malam untuk mengambil air beberapa kali ke sungai. Dirinya-pun tidak keberatan jika sewaktu-waktu tagihan air yang telah ia nikmati selama ini mengalami kenaikan akibat berkurangnya debit air.

“Sejak 2009 saya dapat fasilitas air bersih dari Nestle, sebelumnya jauh ambil airnya, capek bolak-balik ke sungai, pas subuh ambil air pake ember untuk wudhu, untuk masak, tapi sekarang enak karena sudah dekat”

Di tengah kecukupan warga Telagaluhur akan air bersih, permintaan menambah aliran makin bertambah, terlebih masih ada desa tetangga yang juga krisis air. Jamu’in menuturkan telah beberapa kali warga desa Cimayang meminta dialirkan air dari Telagaluhur, namun itu sulit dilakukan mengingat jauhnya jangkauan air dan makin berkurangnya debit air karena semakin banyak warga Telagaluhur yang ikut memasang di rumahnya. Ada lagi pekerjaan rumah besar yang harus dilakukan Jamu’in dan timnya, yaitu memberikan pemahaman kepada warga agar menggunakan air sebijak mungkin. Terlebih dengan makin banyaknya permintaan warga yang tidak sebanding dengan kapasitas air yang ada.

“Di desa Cimayang sama kondisinya seperti di sini dulu, mereka pada pengen dialirkan air dari sini cuma tidak bisa karena kapasitasnya tidak memadai, nanti kalau disalurkan kesana airnya kurang. Disini saja terus bertambah, makanya dari petugasnya di stop, sampai sekarang pun masih banyak yang datang tapi kami tolak karena sudah terlalu banyak dan kapasitas bak penampungan airnya sudah tidak cukup”, pungkasnya.

2 Comments

  1. luqman urfie says:

    saya atas nama pimpinan pesantren ashighori daar el maarif cadasari pandeglang banten, memohon bantuan nya berupa MCK dan pengeboran air bersih untuk kegiatan santri ibadah,mandi dan mencuci. karena selama ini kami hanya mengandalkan air dari sawah warga sekitar pesantren

  2. […] Nestle Indonesia, misalnya, semenjak tahun 2008, bekerja sama dengan PMI melakukan CSR dengan menyediakan air bersih untuk sebuah desa di Serang. Di sana mereka membuat sumur, tangki air, sarana mandi-cuci-kakus, plus hidran, untuk keperluan penduduk sehari-hari. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *