BALIKPAPAN, KOMPAS – Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, mengawali cara melestarikan hutan di wilayah perkotaan dengan meningkatkan peran hutan kota sebagai hutan pendidikan. Sekolah-sekolah akan dilibatkan untuk menanam pepohonan, merawat, dan menjaga Hutan Kota Pendidikan Telaga Sari seluas 18 hektar yang berada di tengah kota tersebut.

“Luas hutan ini awalnya 28 hektar. Namun, karena berbagai konflik kepentingan, hanya tersisa 18 hektar. Ini harus kita pertahankan. Kalangan pendidikan mesti terlibat. Ada 70 sekolah, dari tingkat SD hingga SMA, akan ikut melakukan upaya konservasi,” ujar Kepala Badan Lingkungan Hidup Balikpapan Suryanto, Sabtu (19/3).

Hal itu disampaikan dalam puncak Lomba Hari Lingkungan yang termasuk dalam rangkaian perayaan HUT Ke-119 Balikpapan, Sabtu, di Hutan Kota Pendidikan Telaga Sari (HKPTS). Acara yang juga dimeriahkan artis Oppie Andaresta itu diikuti puluhan siswa dari sejumlah sekolah.

Suryanto mengatakan, para siswa nanti terbagi dalam kelompok sesuai sekolah masing-masing dan mendapat “lahan garapan” di hutan ini. Paling tidak seminggu sekali mereka terjun ke lokasi. Mereka mengonservasi lahan yang luasnya berbeda. Untuk pelajar SD, misalnya, satu kelompok mendapat lahan garapan 15 meter x 70 meter.

Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) MS Sembiring mengatakan, komitmen dari banyak pihak akan mewujudkan fungsi hutan sebagai paru-paru kota. Masyarakat juga semakin tahu pentingnya keberadaan hutan kota sebagai perlindungan tanah dan air yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kelestarian keanekaragaman hayati.

Oppie mengajak para pelajar untuk mencintai lingkungan, terlebih lagi pelajar Balikpapan karena kota ini sudah memiliki hutan yang luas. “Orang yang keren adalah orang yang cinta lingkungan. Tidak buang sampah sembarangan, suka menanam pohon, itu bisa dilakukan,” kata musisi yang juga aktivitis lingkungan ini.

HKPTS yang berada di kawasan perbukitan ini ditetapkan sebagai hutan kota pada 1996. Saat itu, kawasannya sebagian besar merupakan daerah terbuka yang rentan diklaim kepemilikannya oleh warga. HKPTS adalah salah satu contoh tipe ekosistem hutan kerangas yang masih tersisa di Kalimantan.

Hutan kerangas adalah hutan yang karakteristik tanahnya kaya akan pasir silika, porositasnya tinggi, miskin unsur hara, memiliki pH rendah (asam), dan cenderung miskin biodiversitas. Diperkirakan terdapat lebih dari 133 jenis vegetasi di HKPTS, selain juga berbagai jenis satwa mamalia, serangga, burung, hingga reptil.

Sayangnya, vegetasi asli tanaman khas Kalimantan di hutan ini, seperti pasak bumi, karang munting, dan kantong semar, jumlahnya semakin berkurang dan tergantikan tanaman-tanaman lain seperti akasia. “Penambangan pasir liar juga menjadi ancaman,” kata Suryanto.

Tahun 2006, sebagian kawasan longsor dan sejak itu muncul kesadaran untuk memperbaiki kondisi hutan kota tersebut. Kemudian terbentuklah Kelompok Kerja Hutan Kota Pendidikan Telagasari (Pokja HKPTS) Balikpapan. Pokja terus berkembang dan didukung, antara lain, Yayasan Kehati, PT Chevron Indonesia, dan Yayasan Peduli.

Oppie menyebut warga Balikpapan beruntung karena kota ini punya hutan yang luas. Selain hutan kota, Balikpapan memiliki Hutan Lindung Sungai Wain seluas hampir 10.000 hektar dan Hutan Lindung Sungai Manggar seluas 5.000 hektar. Gabungan kedua hutan itu pun mencapai sepertiga dari luas Kota Balikpapan. Kota ini juga punya kebun raya seluas 309 hektar. (PRA)

 

Sumber: Kompas (Koran/Media Cetak)

Senin, 21 Maret 2016

Halaman 22

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *