Adakah Masa Depan Petani Kecil? Community supported Agriculture, inisiatif Lokal Penguatan Petani

Print

Beberapa tahun yang lalu penulis mengikuti seminar pertanian di sebuah negara Eropa. Seminar tersebut membahas tentang the future of smallholders di Eropa. Smallholders sendiri diartikan sebagai para petani yang memiliki lahan pertanian lebih kecil dari pada rata-rata petani. Dalam seminar tersebut akhinya disimpulkan bahwa petani kecil di Eropa tidak memiliki masa depan. Ke depan hanya petani yang memiliki lahan relatif luas dan menggunakan teknologi budidaya yang maju yang akan bertahan. Petani kecil sendiri disarankan membentuk kelompok untuk dan tidak hanya menjual produk pertanian saja, namun juga value yang terdapat di dalam pertanian, yaitu pelestarian lingkungan, kembali ke alam, organik, dan budaya kebersamaan. Jika tidak melakukan hal tersebut sebaiknya petani beralih profesi atau keluar dari sektor pertanian.

Dalam hati penulis, di Eropa mereka sudah menyimpulkan dan mencarikan solusi tentang masa depan petani kecil, bagaimana kabarnya di Indonesia yang populasi petani sebesar 37,75 juta pada tahun 2015, jumlah petani terus turun dari 39,22 juta pada tahun 2013. Tren semakin kurangnya jumlah petani di Indonesia mungkin ditanggapi berbeda. Sebagian merisaukan dan menganggap sebagai ancaman bagi penyediaan pangan bangsa ini. Sebagian menganggap tidak perlu dirisaukan. Urusan ketersediaan pangan dalam jangka pendek dapat diselesaikan dengan impor pangan, dalam jangka panjang industrialisasi pertanian merupakan pilihan tepat.

Baik-baik saja petani kecil keluar dari pertanian. Petani hanya dianggap sebagai tenaga kerja dan angka, sama seperti keberadaan tenaga kerja di sektor lain. Alih profesi dianggap sebagai hal biasa. Bahkan mungkin dianggap sebagai hal yang menguntungkan karena petani yang keluar adalah petani skala kecil yang dianggap tidak efisien dan berada pada kategori hidup miskin. Keluar dari pertanian adalah solusi agar pertanian Indonesia dikelola oleh pelaku-pelaku yang efisien dalam berproduksi. Kemana mereka berpindah tidak pernah diteliti dengan seksama. Apakah mereka hidup lebih baik setelah terpental dari sektor pertanian yang selama ini turun temurun menjadi sumber penghidupan mereka?

Terma petani kecil (smallholders) secara luas dipahami termasuk petani kecil yang tidak memiliki lahan atau tidak memiliki kontrol terhadap lahan budidayanya

Menurut Ethical Trading Initiative (ETI) Smallholder Guidelines (2005) ada beberapa karakteristik umum petani kecil, baik mereka yang tidak memiliki kontrol terhadap lahan usahataninya atau terhadap produk yang dihasilkan, yaitu:

The Fairtrade Labelling Organisation (FLO) mendefinisikan petani kecil sebagai produsen yang bergantung pada tenaga kerja dalam keluarga.

Sebagai lulusan Sosek Pertanian ada perasaan sedih, jika dari sudut kebijakan dan analisa para ahli, petani hanya dipandang sebagai angka statistik. Tidak memandang seorang petani sebagai manusia. Kebijakan yang dihasilkan sering kali menjadi nir-nurani.

Adakah masa depan bagi petani kecil di Indonesia? Pertanyaan itu kembali bergelayut di dalam pikiran penulis. Mungkin bukan jamannya atau pendapat yang melawan arus jika kita berupaya menyelamatkan petani kecil tidak dengan mengharapkan adanya kebijakan makro pertanian yang berpihak kepada petani kecil, namun berupaya membantu petani, bekerja dengan petani di lokasi terdekat, di sekitar lokasi Kampus Rakyat-IPB yang dalam sejarah berdirinya memiliki idealisme menyejahterakan petani kecil.

Sudah kita ketahui bahwa antara kebijakan yang bagus pada level undang-undang jarang atau tidak pernah menghasilkan tujuan yang diharapkan di dalam undang-undang. Ada jarak sangat jauh antar kebijakan dengan pelaksanaan di level terbawah. Ada distorsi sangat besar yang menyebabkan cita-cita semua undang-undang terkait pertanian tak kunjung tiba. Perangkat peraturan di bawah undang-undang, koordinasi institusi yang menjadi pelaksana, kualitas dan mental birokrasi yang tidak memadai, dan para pemburu keuntungan yang memangsa cita-cita mulia para pembuat undang-undang.

Jadi apa yang diharapkan, apa yang dapat dilakukan? Bertahun-tahun para petani dan pegiat pertanian menyadari bahwa peningkatan kesejahteraan petani harus diperjuangkan sendiri, jangan terlalu berharap dengan pihak lain. Pameo di kalangan aktivis petani adalah “kontribusi pemerintah yang paling bermanfaat adalah membuat kebijakan yang baik, jika tidak bisa jangan mengganggu pekerjaan kami.” Mungkin karena pameo ini sebagian pihak alergi dengan kebangkitan organisasi-organisasi petani. Petani yang kuat malah dianggap anomali, apalagi jika berani menyuarakan kepentingannya. Ada saja yang mulai melakukan cap-stempel organisasi kekiri-kirian kepada petani. Aneh bin ajaib negeri ini.

Pernyataan yang muncul dibenak penulis: bagaimana kita menolong keluarga petani, menolong manusia petani dengan tindakan nyata? Tidak perlu tindakan yang fantastis dan besar. Tidak harus gerakan menasional. Kita mulai dari hal yang kecil di sekitar kita. Apa yang dapat dilakukan?

 

CSA sebagai suatu inisiatif skala lokal

Community Supported Agriculture (CSA), dikenal juga sebagai community-shared agriculture adalah sebuah alternatif, model ekonomi berbasis lokal untuk budidaya dan distribusi produk pertanian. CSA merujuk pada kelompok individu atau konsumen yang menyatakann kesediaannya untuk mendukung seorang atau sekelompok petani, dimana petani dan konsumen berbagi keuntungan dan resiko dari usahatani yang dilakukan. Kelompok konsumen atau anggota CSA menyediakan semua biaya produksi usahatani dalam satu musim atau satu periode untuk mendapatkan bagian dari hasil panen. Pada saat panen tiba, anggota CSA akan mendapatkan bagian produksi dari berbagai macam tanaman yang diusahakan. Seperti berlangganan produk pertanian kepada kelompok petani yang dipercayai. Istilah CSA digunakan di Amerika Serikat dan Kanada, namun model serupa juga digunakan dibanyak belahan dunia lainnya (misalnya di Jepang disebut Teikai).

CSA umumnya berfokus pada produksi produk berkualitas tinggi untuk masyarakat setempat, biasanya menggunakan metode pertanian organik atau biodinamik. CSA merupakan inisiatif antara masyarakat yang peduli dengan pertanian dengan kelompok petani. Selama ini dalam menghasilkan produk pertanian petani menanggung semua resiko budidaya. Dengan CSA resiko budidaya dibagi bersama konsumen yang bertindak sebagai investor atau anggota.

Ada interaksi saling menguntungkan antar petani dan konsumen. Petani menghasilkan produk sehat berkualitas dan mendistribusikan produk kepada anggota sesuai jadwal, sedangkan anggota/investor memberikan sejumlah modal sesuai biaya produksi untuk satu musim tanam yang disepakati. Tidak hanya itu, anggota yang biasanyanya terdiri dari orang-orang yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu dapat melakukan penguatan kepada kelompok petani. Misalnya penguatan pada perbaikan budidaya, pembuatan pengelolaan standar mutu produk, atau perluasan pasar. Jika kelompok petani semakin kuat dalam pengetahuan dan keterampilan budidaya, resiko yang dihadapi anggota dan petani berkurang.

Inti dari CSA adalah munculnya konsumen kuat yang bersedia mendanai anggaran keseluruhan musim untuk mendapatkan produk berkualitas. Dengan CSA konsumen mengetahui secara persis bagaimana suatu produk dihasilkan dan secara bersamaan membantu petani kecil menghasilkan produk dan mendapatkan pasar atas produknya.

Sistem ini memiliki banyak variasi pada bagaimana anggaran usahatani didukung oleh konsumen dan bagaimana produsen kemudian memberikan produk. Saat ini CSA dapat menjadi insiatif menghasilkan makanan lokal berkualitas serta rendah emisi.

CSA di bogor dan sekitarnya?

Di Bogor dan sekitarnya dengan mudah kita menemukan petani dan kelompok petani. Beberapa petani merupakan petani yang dibina baik oleh pemerintah dan/atau LSM. Salah satu LSM yang terdiri dari alumni IPB adalah ELSPAAT, anggota Aliansi Organis Indonesia (AOI), membina komunitas petani di wilayah Cijeruk sejak 15 tahun yang lalu. Walaupun program pendampingan yang dibiaya lembaga donor telah berakhir sejak lama, kelompok-kelompok petani ini masih ada. Ada juga petani-petani binaan Lembaga Pangan Sehat (LPS) inisiasi Dhompet Dhuafa yang tersebar di Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Bandung. Petani binaan diajarkan bertani organik, sebagai solusi dari semakin mahalnya biaya input produksi dan kadang-kadang raib dari pasar. Intinya dengan pertanian organik, mereka tidak terlalu tergantung kepada input pertanian dari luar. Ada harapan kemandirian dan ketergantungan dari sering terjadinya ketidakpastian keberadaan input pertanian di negeri ini.

Aneh memang, adopsi pertanian organik atau pertanian selaras alam pada petani-petani kecil yang kebanyakan binaan LSM-LSM Pertanian justru didasari keinginan untuk memproduksi pangan dan produk sehat dengan cara-cara budidaya sehat dan aman bagi lingkungan. Juga sebagai ideologi perlawanan dari petani atas posisinya selama ini yang mereka anggap hanya sebagai obyek dari pembangunan pertanian. Jika berkesempatan berdiskusi dengan petani-petani ini, terlihat ‘api’ semangat perlawanan terhadap apa yang mereka anggap sebagai penindasan petani namun sekaligus ketulusan dalam keinginan melestarikan lahan pertanian yang mereka anggap sakral dan lingkungannya.

Namun ironisnya, produk-produk organik yang dihasilkan, masih dijual dengan harga pasar yang sama dengan harga produk non-organik. Tidak ada harga premium yang diperoleh. Belakangan ketika pasar produk organik semakin berkembang seiring dengan kesadaran masyarakat akan hidup sehat, produk-produk pertanian organik bermunculan, namun kali ini bukan hanya dari petani kecil yang dahulu telah merintis perkembangan pertanian organik di Indonesia, tetapi para pengusaha dan pemodal yang terjun ke pertanian organik karena melihat potensi pasar dan keuntungan produk pertanian organik.

Pengusaha terjun dari hulu ke hilir. Di hulu mereka melakukan budidaya pertanian organik dengan menggabungkan teknologi terbaru dalam budidaya pertanian organik, di hilir mereka membangun pemasaran produk premium tersebut. Kita saksikan saat ini bahwa keuntungan pasar dan harga premium tidak dinikmati oleh petani kecil.

 

Mendukung CSA?

Jika mau, maka sekelompok masyarakat –perguruan tinggi dan perusahaan- peduli petani kecil dapat membentuk CSA, suatu inisiatif skala lokal untuk menguatkan petani. Petani kecil semakin hari semakin terdesak dari pekerjaan turun-temurun dan sumber penghidupannya. Mereka yang tidak mampu bertahan akan terpental dari penghidupannya. Tidak ada jaminan keluar dari sektor pertanian akan menyebabkan petani lebih baik. Kita dapat bertindak dalam skala lokal, membantu mereka dengan membentuk CSA. Jika di sekitar kita belum terbentuk kelompok petani yang siap untuk diajak bekerjasama, maka pekerjaan membentuk CSA dilakukan dari nol, mulai dengan pembentukan dan pendampingan petani. Melakukan perbaikan budidaya, konversi pertanian organik, penguatan kelompok, perencanaan produksi, manajemen mutu, dan pengaturan distribusi panen kepada anggota CSA. Ini pekerjaan yang dapat didukung perusahaan melalui program community development atau social investment. Jika di suatu lokasi, misalnya Kota Bogor atau Bandung kita sudah memiliki kandidat kelompok petani untuk CSA dan sudah menghasilkan produk pertanian organik pembentukan CSA akan lebih mudah. Tentu saja diawal, kita tidak dapat mengharapkan hal ini lancar sebagaimana bekerja dengan perusahaan atau petani modern. Kesabaran dan ketelatenan mendampingi petani untuk menguatkan mereka menjadi kunci dari keberhasilan pembentukan CSA. Jika CSA sudah berjalan, petani akan mendapatkan harga premium dari produk yang dihasilkan, kita sebagai anggota mendapatkan produk sehat yang dibutuhkan. Pendapatan keluarga petani meningkat. Lebih jauh dari hal itu, kita menyelamatkan satu atau beberapa keluarga petani dari ketidakberdayaan yang mengharuskan mereka keluar dari pertanian dan berhenti menjadi manusia petani.

 

[i] Noviansyah Manap, Direktur Utama pada Social Enterprise A+CSR Indonesia, Lembaga yang mempromosikan tanggung jawab sosial perusahaan dan isu-isu keberlanjutan, bekerja bersama LSM dan jaringan petani mengembangkan pertanian berkelanjutan, tinggal di Bogor. Tulisan ini dibuat di dalam Buku Sosek Reborn: Sosial Ekonomi Pertanian, Catatan Ringan Lintas Angkatan, 2016