11880446_10206012810591343_796504453725187581_n

SURABAYA – Penolakkan tambang emas di Kawasan Gunung Tumpang Pitu, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi sudah berlangsung sejak tahun 1997.

Didik, salah satu warga Pesanggaran, Banyuwangi menyebutkan, penolakan tambang karena imbas dari penambangan tersebut mengganggu warga.

“Bayangkan hutan lindung dirambah. Penolakkan ini dilakukan sejak tahun 1997,” kata Didik, Kamis (26/11/2015).

Selain itu, Gunung Tumpang Pitu ini menjadi pelindung warga dari tiupan angin barat daya. Angin tersebut sangat kencang dan bisa memporak-porandakan rumah milik warga.

“Adanya gunung itu, ketika angin barat daya bertiup genteng rumah saja bisa terangkat. Apalagi kalau tidak ada gunung,” jelas Didik.

Didik mengaku tidak mengetahui siapa yang mempelopori terkait menolak aktivitas tambang di lokasi tersebut. “Nggak ada yang mempelopori,” ujarnya.

Didik juga menyebut, saat ini kondisi lokasi masih memanas. Sejumlah warga yang menolak tambang belum ada titik temu dengan pihak Pemkab Banguwangi, aparat Kepolisian dan PT BSI (pengelola tambang di kawasan Gunung Tumpang Pitu).

Seperti diberitakan sebelumnya, kerusuhan tambang kembali terjadi di Kawasan Gunung Tumpang Pitu, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Rabu (25/11/2015) sore.

Kawasan ini dekat dengan obyek wisata pantai Pulau Merah. Kerusuhan tambang ini terjadi saat sekitar 400 an warga menggelar aksi menolak tambang.

Menurut Kapolres Banyuwangi AKBP Bastoni Purnama, dalam aksi tersebut massa telah melakukan tindakan anarkhis dengan membakar sejumlah sarana dan prasarana milik PT BSI di sekitar lokasi penambangan emas itu.

Foto: penjaga


Sumber berita: Sindo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *