a+csr-postimage-buruh-sumutposco

Tidak bisa disangkal, ketika bicara CSR acapkali kita “lupa” stakeholder terpenting perusahaan yaitu buruh. Mereka seringkali menjadi pihak yang terakhir yang disebut ketika membincangkan program/proyek untuk CSR. Di banyak perusahaan, masyarakat sekitar selalu jadi prioritas dalam agenda program/projek untuk CSR. Sementara buruh karena ditimbang sudah mendapat “manfaat” dari perusahaan, entah karena sudah diterima bekerja maupun mendapat upah bulanan, seringkali luput dari perhatian.

Tahun 2013 dan 2014, mungkin bisa dibilang tahunnya karyawan melakukan demonstrasi besar-besaran, khususnya di Jakarta-Bekasi dan Tangerang. Mulai dari Mei hingga Desember 2013, berita demonstrasi buruh hampir tanpa berhenti terus mewarnai halaman media massa. Tuntutan merentang mulai dari penghapusan status tenaga kerja kontrak, pelanggaran HAM terhadap buruh, tapi yang paling kentara adalah tuntutan kenaikan upah.

Dalam ISO 26000, tanggungjawab perusahaan terhadap buruh ditaruh dalam subyek inti ke tiga. Bahkan lebih dahulu dibahas sebelum diskursus subyek inti ke tujuh tentang pelibatan dan pengembangan masyarakat. Panduan tanggungjawab ISO 26000, menyebut sejumlah aspek yang penting dipenuhi perusahaan bagi buruh, diantaranya status kerja buruh tidak disamarkan, eksploitasi tenaga kerja, keselamatan, praktik PHK diskriminatif, tenaga kerja paksa dan tenaga kerja di bawah umur. Juga tentang kesejahteraan buruh yang mencakup upah yang sesuai, kondisi kerja yang memadai, jam kerja yang tidak mengurangi tanggungjawab buruh dalam keluarga, mempertimbangkan work-life-balance, peningkatan peluang kerja, pengembangan karir, promosi dan kenaikan pangkat pekerja lokal dan promosi kesejahteraan buruh.

Secara terang ISO 26000 mendorong hubungan yang konstruktif dari dua pihak: perusahaan dan buruh. Dalam UU 13 tahun 2003, hak dan kewajiban pengusaha dan buruh juga telah diterakan dengan cukup gamblang. Pertanyaanya adalah apakah pertimbangan-pertimbangan legal dan kemanusiaan sudah masuk dalam keputusan manajemen, khususnya di sebagian besar perusahaan di Indonesia? Tak sedikit kasus yang mencuat seperti gaji jauh di bawah ketentuan, dipecat tanpa alasan yang jelas, pekerja paksa dan buruh yang ternyata masih di bawah umur.

Perusahaan-perusahaan pionir yang berkomitmen buruh/karyawan memperoleh kompensasi yang sepadan menempatkan mereka sebagai aset paling berharga bagi perusahaan. Nyatanya perusahaan itu pun kemudian menjadi idola para pencari kerja. Dan tentu saja perusahaan tersebut pada akhirnya mendapatkan orang terbaik. Fortune merilis 100 Best Companies to Work For. Sepuluh diantaranya berturut-turut: Google, Inc, SAS, CHG Healthcare Services, The Boston Consulting Group, Inc, Wegmans Food Markets, Inc, NetApp, Hilcorp Energy Company, Edward Jone, Ultimate Software, Camden Property Trust. Ada 6 hal yang dapat menjadi value bagi karyawan yang bekerja di perusahaan terbaik tersebut, yaitu: Trust (Kepercayaan), Credibility (Kredibilitas), Fairness (Keadilan), Pride (Kebanggaan), Respect (Rasa Hormat), dan Camaraderie (Persahabatan).

Lalu bagaimana di Indonesia, apakah ada perusahaan yang digandrungi pencari kerja? Ataukah akankah urusan buruh Indonesia berhenti pada elemen sangat mendasar: upah layak.

Foto: SumutPos.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *