Sekadar mengandalkan kesuburan tanah vulkanik saja tidak cukup bagi sebagian petani Indonesia untuk unjuk gigi. Dihantam mekanisme pasar yang tidak pasti, mereka mudah limbung hingga hilang konsentrasi saat hendak memperbaiki kualitas dan hasil panennya.

Tahun 2015 menjadi saat paling buruk bagi Endang Mulyadi (48), petani asal Kampung Babakan Cieurih, Desa Margamekar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sejak menjadi petani 35 tahun lalu. Ia dan kelompok tani asuhannya, Putra Cinta Asih, merugi hingga Rp 2 miliar. Keadaan ini mengulang fakta muram empat tahun lalu, kala itu ia rugi Rp 1,7 miliar.

“Setelah susah payah mengembalikan utang, kini kami dapat mencoba lagi,” kata Endang di Pangalengan, akhir Januari.

Putra Cinta Asih adalah kelompok tani sayur terbesar di Pangalengan. Selain memanfaatkan lahan sendiri, kelompok tani ini menyewa lahan bekas perkebunan teh tidak produktif dengan total luas 80 hektar. Di atas tanah vulkanik Bandung selatan, 625 tenaga kerja menggantungkan hidupnya.

Endang mengatakan, penyebabnya beragam. Hama dan perubahaan cuaca ekstrem mengganggu hasil panen. Kondisi itu diperparah mekanisme pasar yang tak pasti, yang membuat tengkulak mudah memegang kendali.

“Tahun lalu perubahan cuaca dan tawaran tengkulak membuat kami terpuruk. Dari rata-rata panen sayur 18 ton per hektar, tahun lalu panen kurang dari 10 ton per hektar. Harga juga merosot. Tomat, misalnya, dari harga Rp 5.500 per kilogram dibeli tengkulak hanya Rp 500 per kilogram,” ujarnya.

Kerja sama

Harapan mulai muncul sejak mereka menandatangani kontrak kerja sama dengan PT Rajatani Agro Nusantara di akhir 2015. Kotrak berdurasi setahun itu menjamin hasil panen petani dibeli dengan harga tinggi dan relatif stabil. Dirintis Anne Sri Arti dan pengusaha Rachmat Gobel, Rajatani mencoba menghadirkan kedua hal penting itu tetap ada dan dinikmati petani.

Selain Pangalengan, Rajatani juga bekerja sama dengan petani mangga di Cirebon, petani salak di Wonosobo, petani nanas di Pemalang, hingga durian di Bali. Hasil panen petani nantinya disalurkan untuk memenuhi kebutuhan pasar premium hingga perusahaan katering berskala besar. “Kami sepakat menjaga semangat petani sebagai ujung tombak pangan adalah tujuan paling utama,” kata Anne.

Anne mencontohkan harga cabai merah yang dibeli tengkulak Rp 13.000-Rp 15.000 per kilogram, Rajatani membelinya berkisar Rp 17.500-Rp 18.000 per kilogram. “Penetapan harga merupakan kesepakatan bersama petani dan tidak kaku. Saat harga di pasar lebih tinggi daripada nilai kontrak awal, kami akan menyesuaikannya dengan harga lebih tinggi,” kata Anne.

Selain memberikan rasa aman, edukasi penanaman yang baik juga dilakukan. Saat membeli mangga harumanis matang pohon dari Cirebon, Rajatani menyarankan petani menjual buah matang pohon 95-100 persen atau memberi waktu dua minggu lebih lama dari waktu panen konvensional.

Cara itu, menurut Anne, diyakini ampuh meningkatkan harga jual mangga. Jika sebelumnya harga beli Rp 7.000 per kilogram oleh tengkulak, petani bisa menjaul mangga matang pohon hingga Rp 29.000 per kilogram.

Melegakan

Di tengah peningkatan jumlah penduduk yang memicu ketersediaan pangan, keadilan harga dan jaminan pasar sangat dibutuhkan petani. Di Jabar, konsep serupa muncul dan diharapkan menjadikan petani garda terdepan penghasil bahan pangan.

Kelompok Tani Cipta Mandiri di Kampung Cibeungang, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, umpamanya. Mereka muncul bersama konsep “Pasar Kecil” lewat sayur organik. Sejak tahun terakhir, Adang Parman (54), petani Cipta Mandiri, mengurangi ketergantungan penjualan sayur pada tengkulak. Ia menyalurkan langsung panen sayur kepada konsumen. “Kami pun bisa mendapatkan untung lebih besar,” kata Adang.

Petani di Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, juga menjadi contoh, lewat budidaya cabai merah rahong. Kepala Desa Mandalamekar Yana Noviandi mengatakan, dengan membeli alat angkut sendiri, mereka bisa memotong lapisan mekanisme pasar yang merugikan.

“Ternyata ada Rp 1 juta yang hilang kalau mengirim cabai 200 ton per minggu ke Pasar Kramatjati, Jakarta. Sekarang setelah mengirimkannya sendiri, keuntungan yang pernah hilang bisa kami dapatkan,” kata Yana.

Warga Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dan Sarongge, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, bersama Wangsa Jelita, produsen sabun dan parfum berbahan bunga mawar, menerapkan hal serupa. Bukan di bisnis pangan, melainkan kosmetik. Salah satu pendiri Wangsa Jelita, Nadya Saib, mengatakan, pihaknya membeli mawar dengan panjang batang kurang dari 40 sentimeter, yang sebelumnya dihargai murah, bahkan tak laku dijual. Untuk meningkatkan pendapatan, istri petani mawar juga diajari teknik pembuatan sabun dan parfum. “Mengandalkan penjualan terbesar melalui internet, produk Wangsa Jelita sampai ke Singapura,” katanya.

Optimis

Ketika pasar yang pasti sudah ada di depan mata, para petani optimis bisa menanam lebih banyak dengan hasil berkualitas.

Elit (49), bersama delapan ibu-ibu asal Desa Margahayu, Kecamatan Pangalengan, di antara tumpukan bibit kentang, pun terus merenda asa.

Akhir Januari lalu, saat ditemui, sambil duduk berkeliling di salah satu sudut gudang milik Kelompok Tani Putra Cinta Asih, Elit dan rekan-rekannya tengan memilah bibit terbaik di antara getah kentang yang mudah memicu gatal saat terkena kulit. ” Saya justru khawatir kalau tidak bertemu getah kentang. Itu sama saja dengan minimnya penghasilan karena tidak ada kentang yang harus dipilah,” kata Elit, pekerja Kelompok Tani Putra Cinta Asih sejak lima tahun lalu.

Elit sudah merasakan pengalaman buruk itu tahun lalu. Saat bisnis pertanian di Pangalengan anjlok, ia kena imbasnya. Kalau sebelumnya ia bekerja lima hari dalam seminggu, tahun lalu ia kerap bekerja hanya dua sampai tiga hari saja.

“Tahun ini sepertinya beda. Hari kerja saya normal lagi,” kata Elit, yang dibayar Rp 17.000 per hari, sebagai upah bekerja pada pukul 06.30-12.00

Endang Mulyadi yang berada di tempat yang sama ikut tersenyum mendengar harapan itu.

Ketika pasar yang pasti sudah ada di depan mata, ia optimistis bisa menanam lebih banyak lagi dengan hasil yang juga lebih berkualitas. “Setelah disibukkan mencari pasar, kini saatnya fokus meningkatkan kualitas panen,” katanya.

 

Sumber: Kompas (Koran/Media Cetak)

Senin, 15 Februari 2016

Halaman 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *