Apakah Program Berkelanjutan (Corporate Sustainability) Terhenti di Masa Pandemi?

Print

Jika anda percaya  bisnis media “mainstream”, ada pemberitaan yang terus dibahas pada masa pandemi ini. Berita dua krisis mulai soal wabah covid-19 hingga dampak ekonominya, seolah menenggelamkan berita soal aktivitas bisnis keberlanjutan.

Bulan lalu, sebagai contoh, media The Wall Street Journal memberitakan soal komitmen dan program perusahaan bertajuk “Sustainability Was Corporate America’s Buzzword. This Crisis Changes That”. Isi cuplikan berita ini seolah berbunyi, “para eksekutif perusahaan menyerukan ‘time out’ (untuk program sustainability)”.

Tulisan beritanya kurang lebih seperti ini: “Hari ini, para eksekutif perusahaan tengah berupaya membuang ‘beban kapal’-nya di tengah dampak pandemi yang menguncang bisnis. Kini bisnis tak lagi soal menyelamatkan bumi, melainkan pada menyelamatkan (perusahaan) mereka sendiri.”

Diantara berbagai berita, muncul kabar seperti: General Motors menghentikan program berbagi (pemakaian) kendaraan, Starbucks tak lagi memakai cangkir yang bisa didaurulang dan perusahaan ini menunda laporan keberlanjutannya.

Ya, kita bisa paham: tak ada seorang pun yang bersedia berbagi tumpangan kendaraan dengan orang asing dan menikmati kopi dalam cangkir tak tercuci di tengah pandemi ini. Tak bisa disalahkan, kebijakan dua perusahaan tersebut memang layak dihentikan, setidaknya untuk sementara.

Tapi menariknya, perusahaan yang menjalankan corporate sustainability (yang terdiri dari 4 pilar: manusia, sosial, ekonomi, dan lingkungan) ternyata masih ada. Tak seperti peristiwa kekacauan ekonomi sebelumnya, keberlanjutan demi efisiensi perusahaan bukanlah hal yang bisa dihilangkan begitu saja. Seharusnya hal ini tetap diterapkan, karena justru bagian dari keuntungan perusahaan.

Apakah masih berpikir program keberlanjutan perusahaan sudah mati? Mari kita lihat lagi fakta di bawah ini:

Program perusahaan itu seluruhnya dicanangkan pada April, saat pandemi covid-19 dan dampak ekonomi mulai dirasakan secara global. Ok, bisa saja itu lantaran terjadi di bulan April, saat warga dunia memperingati hari bumi sehingga perusahaan terlihat “baik”. Tapi jika momen itu dijadikan alasan, ternyata tidak tepat.

Media memberitakan sejumlah perusahaan global tetap berkomitmen mendukung corporate sustainability mereka di bulan Mei. Berita tersebut diantaranya:

Lima Alasan Penting

Jadi, kenapa Corporate Sustainability tetap dilakukan perusahaan di tengah kondisi yang mengkhawatirkan ini? Ada lima alasan:

Tentu saja semua itu bukanlah skenario yang mudah dijalankan. Pekerjaan terkait energi bersih mulai tergerus ekonomi yang sulit di tengah wabah. Lowongan pekerjaan di perusahaan corporate sustainability pun mengalami penundaan. Banyak perusahaan yang kini berjuang menanggulangi pandemi demi memastikan karyawan mereka, pemasok, pelanggan, dan lainnya tetap ada.

Tapi mari kita bersyukur: program keberlanjutan (corporate sustainability) tetap dilakukan, di tengah masa terburuk dalam sejarah manusia ini. Adalah hal yang bernilai dan penting diperhatikan dalam menangani masalah ekonomi, lingkungan, dan sosial yang tengah dihadapi dengan menumbuhkan  ketahanan sosial untuk menghadapi gelombang masalah selanjutnya, apapun bentuknya. Lalu perlahan-lahan perusahaan melangkah untuk menghadapi tantangan dan mengambil kesempatan.  

*Tulisan merupaka terjemahan dari artikel berjudul “Is sustainability undergoing a pandemic pause?” yang ditulis Joel Makower chairman dan editor eksekutif di GreenBiz Group Inc., dan produser GreenBiz.com. Tulisannya beralamat di : https://www.greenbiz.com/article/sustainability-undergoing-pandemic-pause

 

(Source: https://majalahcsr.id/apakah-program-berkelanjutan-corporate-sustainability-terhenti-di-masa-pandemi/)